Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Mengenal Sick Building Syndrome

Sick Building Syndrome adalah kondisi dimana individu atau sekumpulan penghuni suatu gedung bangunan menderita gejala dan penyakit serupa seperti pilek, hidung tersumbat, mata gatal, infeksi sinus; tenggorokan gatal, kulit kering dan teriritasi, sakit perut, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, dan kelelahan atau kelesuan. Gejala dan penyakit ini akan perlahan hilang ketika penghuni meninggalkan gedung atau bangunan tersebut.

Sumber : christianhvac.com

Penyebab Munculnya Sick Building Syndrome

Melansir dari Occupational Health and Safety (OHS), pada tahun 1970-an terjadi krisis energi pertama di dunia. Selama krisis tersebut, banyak kontrakor dan pemilik bangunan mengambil beberapa langkah untuk mengurangi konsumsi energi saat membangun gedung perkantoran. Langkah – langkah yang diambil diantaranya meningkatkan isolasi bangunan, membuat pelapis bangunan, pelapisan pintu terhadap cuaca, dan penggunaan jendela panel ganda serta jendela tiga panel berinsulasi. Dalam banyak kasus, bangunan dibangun atau direnovasi dengan menggunakan jendela yang tidak dapat dibuka untuk meminimalkan hilangnya udara panas atau dingin. Hasilnya, beberapa bangunan modern terasa kedap udara.

Dekorasi bangunan juga berkontribusi terhadap masalah ini. Banyak cat, serat karpet, furnitur,  bahkan wallboard dapat mengeluarkan asap berbahaya setelah bertahun-tahun pemasangan. Produk-produk ini mungkin mengeluarkan formaldehida atau yang lebih dikenal sebagai formalin, asam asetat, atau senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dan bahan kimia lainnya. Peralatan kantor modern seperti mesin fotokopi dan pembersih udara elektrostatik menambah masalah dengan menambahkan ozon ke dalamnya. Jamur atau lumut akibat kondisi lembab juga menimbulkan masalah kualitas udara. Proses manufaktur dan peralatan penanganan material dapat menambah hidrokarbon atau kabut asap, dan banyak bahan pembersih kimia mengeluarkan uap berbahaya. Dan hasilnya, bahan kimia tersebut menimbulkan gejala Sick Building Syndrome.

BACA JUGA : Penyebab Kualitas Udara yang Buruk di Dalam Ruangan

Cara Mencegah Terjadinya Sick Building Syndrome

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah Sick Building Syndrome menurut OSHA  :

  1. Bersihkan area basah atau lembap. Jamur dan lumut memperburuk alergi dan menyebabkan iritasi bahkan pada orang yang tidak alergi, jadi menyingkirkannya di dalam gedung dapat membantu. Cari sumber kelembapan atau genangan air dan perbaiki semua kebocoran. Bersihkan semua kelembapan yang tersisa.
  2. Pasang kipas HVLS untuk ventilasi. OSHA menyatakan bahwa solusi paling efektif untuk masalah kualitas udara dalam ruangan adalah memastikan pasokan udara segar yang cukup melalui ventilasi alami atau mekanis. Mereka merekomendasikan untuk mengikuti American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers’ (ASHRAE)
  3. Lakukan perawatan HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning) secara teratur. Sistem HVAC memerlukan perawatan rutin, termasuk penggantian filter dan penyetelan rutin.
  4. Pasang pembersih atau filter udara. Jika lingkungan bisnis Anda mencakup peralatan yang melepaskan ozon atau kontaminan udara lainnya, Anda mungkin ingin memasang pembersih atau filter udara. OSHA merekomendasikan pembersih udara untuk smoking area, jadi jika Anda menyediakan smoking area di  dalam ruangan, Anda harus mempertimbangkan opsi ini.
  5. Buka jendela untuk meningkatkan sirkulasi udara alami. Banyak gedung perkantoran dan bisnis modern tidak memiliki jendela yang dapat dibuka. Jika Anda cukup beruntung memiliki jendela yang bisa dioperasikan, pertimbangkan untuk membukanya setidaknya selama sebagian hari untuk memberikan ventilasi alami dan aliran udara luar segar yang lebih banyak.
  6. Pilih material dan bahan interior dengan hati-hati. Banyak bahan bangunan modern dan perabotan interior mengeluarkan zat berbahaya selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pemasangan. Memilih bahan yang mengeluarkan zat berbahaya selama renovasi sebenarnya dapat menimbulkan masalah bangunan yang buruk yang sebelumnya tidak ada, jadi masuk akal untuk meluangkan waktu untuk memilih dengan bijak.
  7. Memantau kondisi lingkungan dengan Data Logger. Dengan adanya alat ukur dan perekam, memantau kondisi lingkungan di dalam gedung menjadi lebih mudah dan efektif. Data pemantauan tersebut nantinya akan berguna untuk menyesuaikan kondisi lingkungan menjadi lebih nyaman, sehat, dan mencegah terjadinya Sick Building Syndrome. Direkomendasikan memasang alat ukur dan perekam suhu, kelembapan, dan karbon dioksida untuk ruangan.

Kesimpulan

Kualitas udara dalam ruangan dapat berdampak besar terhadap kesehatan dan produktivitas karyawan atau penghuni gedung. Untuk menjaga kesehatan mereka, merupakan langkah yang cerdas untuk melakukan semua yang bisa dilakukan untuk meringankan atau mencegah sick building syndrome. HVLS, perbaikan jamur, dan pemilihan bahan yang cermat selama renovasi dapat membantu mengatasi atau mencegah masalah sick building syndrome.

Bagikan artikel ini :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Baca Juga