Trenggiling, Hewan yang Paling Banyak Diperdagangkan di Dunia

Trenggiling adalah mamalia bersisik dengan lidah panjang dan tidak memiliki gigi. Trenggiling adalah pemakan serangga, terutama semut dan rayap.   Trenggiling hidup di habitat dan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dan merupakan satu – satunya hewan yang memiliki sisik keratin besar yang menutupi kulitnya. Sisiknya berfungsi sebagai pelindung , ia dapat meringkuk menjadi bola saat terancam.

Fakta Unik Trenggiling

  • Trenggiling dapat mengeluarkan bahan kimia berbau dan berbahaya, mirip dengan semprotan Sigung.
  • Lidah trenggiling sangat panjang, trenggiling besar dapat menjulurkan lidahnya hingga 40 cm . Air liur mereka lengket, menyebabkan makanan pilihan mereka – semut dan rayap – menempel di lidah mereka yang panjang.
  • Mereka tidak memiliki gigi, sehingga mereka menelan batu-batu kecil yang menumpuk di perut mereka untuk membantu menghancurkan serangga yang mereka konsumsi.
  • Mereka cenderung penyendiri, hanya bertemu untuk kawin dan menghasilkan satu hingga tiga keturunan, yang mereka pelihara selama kurang lebih dua tahun.
  • Kebanyakan trenggiling aktif di malam hari dan penglihatannya sangat buruk, sehingga mereka menggunakan indra penciumannya yang sudah berkembang dengan baik untuk mencari serangga.

BACA JUGA : Mengenal Sick Building Syndrome

Mengapa Trenggiling Terancam Punah?

Dikuti dari CTSS IPB, ada delapan spesies trenggiling yang tersebar di seluruh Afrika dan Asia. Trenggiling di Asia terbagi menjadi empat spesies: Trenggiling Cina, Trenggiling India, Trenggiling Filipina, dan Trenggiling Sunda (Manis Javanica). Trenggiling Sunda adalah spesies yang paling umum di Asia Tenggara. Namun sangat disayangkan Trenggiling Sunda saat ini masuk dalam hewan berstatus kritis (CR) dalam Daftar Merah IUCN. Keadaan ini bermula pada tahun 2017, dimana sebelumnya berada pada posisi EN (Endangered)

Trenggiling merupakan hewan yang paling banyak diperjualbelikan di dunia
Trenggiling Sunda | Sumber : cdc.gov

Kerusakan habitat dan ekosistem menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup trenggiling. Ancaman terhadap keberadaan spesies ini juga datang dari semakin maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar. Trenggiling banyak diburu sebagai obat tradisional Tiongkok karena sisiknya dipercaya berkhasiat dan dijadikan obat. Dagingnya dikonsumsi sebagai hidangan mewah dan sebagai sumber protein lokal. Diperkirakan 100.000 trenggiling diperdagangkan ke Tiongkok dan Vietnam setiap tahunnya, menjadikan trenggiling sebagai hewan yang paling banyak diperdagangkan di dunia.

Peran HOBO Data Logger dalam Melindungi Populasi Trenggiling

Untuk melindungi dan memulihkan populasi trenggiling, Matthew H. Shirley, peneliti dari Tropical Conservation Institute of Florida International University (FIU) dan timnya melakukan perjalanan ke Afrika untuk mempelajari dan mengumpulkan informasi yang sangat dibutuhkan tentang hewan ini. Sebagai bagian dari penelitian berkelanjutan ini yang dimulai pada bulan November 2018, HOBO Pendant, data logger Suhu dan Cahaya digunakan untuk mempelajari pergerakan trenggiling. Dilengkapi dengan pemancar radio dan data logger HOBO Pendant, Shirley dan timnya menandai 15 trenggiling perut hitam, yang hampir mustahil untuk diamati di alam liar. Data yang dicatat setiap empat menit ini diharapkan dapat memberikan para peneliti pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana trenggiling berinteraksi dengan lingkungannya.

Mathieu Assovi (kiri) dan peneliti dari FIU, Matthew Shirley (kanan) sedang bersiap melepaskan trenggiling perut hitam pertama yang mereka beri tanda. Foto diatas oleh : Matthew Shirley.

Bagikan artikel ini :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Baca Juga